Tuesday, June 7, 2016

,

Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990 - Pidi Baiq


Judul: Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990
Penulis: Pidi Baiq
Penyunting naskah: Andika Budiman
Desain sampul: Kulniya Sally 



Blurb: 
"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja." (Dilan 1990) 
"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang." (Dilan 1990) 
"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli." (Milea 1990)

Oke, jadi sebenernya, inti cerita Dilan ini sih yaa kayak cerita remaja biasa. Anak baru, diramal (kalau ini cuma Dilan HAHA), modus-modus, terus jadian.

Jadii, saya bingung mau ngeringkas apa. HAHA. (Bilang aja males wkwk.)

Terus ya ada bumbu-bumbu konfliknya gitu. Misalnya ya jelas lah ya, pasti bakal ada orang yang enggak setuju sama hubungan Dilan-Milea. Misalnya, cewek yang naksir Dilan, atau cowok yang naksir Milea bla bla bla.

Walaupun klise, saya suka, sih. HEHE. Pas saya baca, saya sempet senyum-senyum sambil ketawa sendiri HAHA.

Ini ada contoh percakapan Milea dengan Dilan (Milea itu 'aku'-nya btw):


"Kamu pernah nangis?" kutanya.  

"Waktu bayi, pengen minum." 

"Bukan, ih!" kataku. "Pas udah besar. Pernah nangis?" 

"Kamu tau caranya supaya aku nangis?" dia nanya. 

"Gimana?" 

"Gampang." 

"Iya, gimana?" 

"Menghilanglah kamu di bumi."

Atauu, ini yang cukup terkenal:

SELAMAT ULANG TAHUN, MILEA.

INI HADIAH UNTUKMU, CUMA TTS.

TAPI SUDAH KUISI SEMUA.

AKU SAYANG KAMU

AKU TIDAK MAU KAMU PUSING

KARENA HARUS MENGISINYA.

DILAN!

Dan oh ya, ini. Enggak tahu kenapa, saya suka waktu Dilan nulis nama-nama orang yang pengin jadi pacarnya Milea. Dia juga nulis namanya di nomor terakhir. Habis itu, semua namanya dia coret kecuali nama dia sendiri.

"Kenapa?" kutanya, maksudnya kenapa semua dicoret kecuali nama dirinya? 

"Semuanya akan gagal," dia bilang begitu dengan berbisik. 

"Kecuali kamu?" tanyaku. 

"Iya," katanya sambil senyum. "Doain." 

"Iya," kataku pelan sekali.

Terus apa yaa, yah, tingkahnya Dilan itu emang konyol-konyol. Apalagi nih, ada puisinya yang bikin saya kejang-kejang:



yang ini dari Dilan buat adeknya, btw.



Tapii, ada saatnya saya enggak suka sama cerita ini. Misalnya, di bagian Milea-nya annoying af. Yah, namanya juga cewek remaja labil (apalagi, katanya lagi menstruasi) wajar, laah. Cuma ya gimana, saya enggak suka karakter kayak gitu HAHA.

Terus, masih ada beberapa typo. Sama kesalahan tanda baca. Lumayan banyak menurut saya, malah. Kayak titik, koma, dsb.

Kalau rangkaian kalimat, saya sih, mau protes tapi ya gimanaa HAHA. Ini kan, emang udah gaya berceritanya. Banyak banget kalimat enggak efektif. Awalnya saya greget, tapi lama-lama, ya sudahlah.

Tapi ada beberapa yang saya gatel banget. HAHA. Misalnya ini:

Sebelum aku pindah ke Bandung, kata Wati, Dilan pernah berantem dengan anak kelas 3. Gara-garanya disebabkan oleh karena orang itu bilang ke Dilan...

Samaa..

Hukumannya adalah: aku gak mau ngomong dengannya Dilan sepanjang perjalanan.... 
((kenapa enggak 'dengan Dilan' aja?))


Dan ada lagi. Milea nanya ke Dilan, "Kamu kemaren nyerang?"

Em.. harusnya sih itu bukan kemaren. Harusnya kan hari ini. CMIIW (buat yang udah baca).

Sama satu lagi. Milea kan beli materai di warung, terus pas Kang Adi nanya dia beli apa, jawabnya beli meteran. Ini enggak tahu Mileanya bercanda apa gimana...

Oke, sudah ((nyetop diri)).

Secara keseluruhan, saya cukup menikmati novel ini. Ada satu hal lagi yang saya suka dari novel ini. Yaitu, latarnya! Bandung tahun 90. Kerasa banget zaman dulunya. Kayak yang belum ada ponsel. Terus kalau telepon itu telepon ke rumah, ngomong bisik-bisik pas telepon biar enggak kederan orangtua. HAHA. Saya suka banget.

Walaupun, saya udah bisa nebak sih, nanti di Dilan 91 pasti enggak bakal seseneng ini. Tapi... ya udahlah, belom ada niat mau baca juga EHE.

Overall, saya kasih 3.5 dari 5 bintang buat Sang Peramal! : )


3 comments: