Wednesday, June 28, 2017

,

Carisa dan Kiana - Nisa Rahmah


Judul: Carisa dan Kiana
Penulis: Nisa Rahmah
Editor: M. Adityo Haryadi
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



Blurb:

Lima fakta tentang Carisa: pintar berorganisasi, judes apalagi jika berhubungan dengan Stella, diam-diam punya bakat dalam bermusik, menyukai Rama (sahabatnya sendiri), dan menyimpan kisah kelam tentang keluarganya.


Lima fakta tentang Kiana: jagoan sains SMA Pelita Bangsa, pemalu, bersahabat dengan Stella si cewek populer, menjalin komunikasi misterius dengan cowok terkenal di sekolahnya, dan menyayangi Papa melebihi apa pun di dunia.


Rama bersaing dengan Rico, pacar Stella, dalam pemilihan ketua OSIS SMA Pelita Bangsa. Strategi kampanye yang diusung Carisa sebagai ketua tim sukses Rama, terbukti jitu. Stella jadi berang dan mengembuskan gosip tidak sedap tentang Carisa dan Rama.


Carisa berniat melabrak Stella. Namun karena hanya ada Kiana, dialah yang diserang Carisa hingga terjadi kecelakaan kecil. Orangtua Carisa dan Kiana pun dipanggil. Di pertemuan orangtua itu, satu rahasia tentang keluarga mereka terungkap.


Bagaimana Carisa dan Kiana menghadapi kenyataan baru yang mengubah cara pandang mereka akan hangatnya keluarga? Apa yang harus Carisa dan Kiana lakukan saat menyadari mereka sama-sama menyukai Rama?

Carisa dan Kiana bercerita tentang Carisa--si cewek yang terkenal judes dan sangar, dan Kiana--si juara olimpiade yang pemalu dan lengket banget sama papanya.

Nah, ceritanya Carisa ini musuhan sama Stella--si cewek populer di sekolah. Sebenernya, Carisa juga populer, tapi Carisa terkenal karena kemampuan dia berorganisasi, dll. Sedangkan Stella terkenal karena kecantikannya dan segala macem.

Kiana itu temen deketnya Stella. Maka otomatis, Kiana juga jadi enggak ramah sama Carisa, walaupun sebenernya Kiana enggak punya masalah apa-apa sama Carisa.




Nah, terus ada Rama. Dia ini sahabatnya Carisa yang awal deketnya gara-gara mereka satu divisi di OSIS. Carisa juga akhirnya jadi ketua tim suksesnya Rama buat pemilihan ketua OSIS. Dan sesuai yang bisa kalian baca di blurb-nya, kalau Carisa dan Kiana dua-duanya naksir Rama.

Belum lagi tiba-tiba aja, Carisa dan Kiana terseret ke suatu masalah dan rahasia keluarga mereka berdua pun terbongkar.





Yah, saya enggak tahu lagi harus nyeritain apa karena takut spoiler, wkwk. Jadi segini aja, ya. 

Sekarang, ayo kita bahas bukunya! : D.

Jadi, saya beli buku ini karena pertama, cover-nya bagus. Beneran. Bagus banget enggak sih? Ah, gemaaas.

Kedua, saya beli buku ini karena review-review-nya di Goodreads bagus-bagus dan saya jadi penasaran. HEHE.

Dan ketiga, karena penulisnya Potterhead. HAHA. 

Buku ini tipis, dan bahasanya pun ringan jadi bacanya cepet, yay. Ceritanya pun ngalir dan cukup bikin penasaran.

Setelah menyelesaikan buku ini, saya memutuskan kalau... saya suka buku ini! HEHE. Apalagi Riconya.

Selain bercerita tentang kehidupan pacar-pacaran remaja, cerita ini menekankan banget ke masalah keluarganya. 

"Seolah dengan bercerita dan mendengarkan cerita orang lain yang bernasib sama masalah bakalan selesai. Padahal sih nggak. Bukan orang-orang itu yang seharusnya mendengar keluh kesah kita. Tapi... orangtua kita sendiri yang seharusnya ada di sana untuk mendengarkan."

Tokoh-tokohnya saya juga suka! Walaupun pakai sudut pandang orang ketiga dan kadang-kadang suka pindah dari bagiannya Carisa dan Kiana, tapi saya enggak pernah bingung karena perbedaan mereka terasa banget.

Carisa cenderung lebih cuek daripada Kiana. Walaupun dari luar dia kelihatan galak dan judes, sebenarnya dia hanyalah anak kecil yang butuh perhatian orangtua (ea). 

"Dengan bermusik ia menemukan kedamaian dan perasaan cinta yang tidak pernah ia dapatkan di rumah."

Kalau Kiana, beda lagi. Dia lebih pemalu dan pendiam. Sama agak polos-polos lugu gitu, sih. Jujur, saya awalnya enggak suka karakter dia. Kayak baperan dan yah, gatau ya... bikin saya greget aja pokoknya x D. Saya tim Carisa pokoknya! Tapi ya, lama-lama ya, biasa aja, kok. (Walaupun saya tetep mihak Carisa hehe).

Kemudian ada Rama! Ya, saya sih biasa-biasa aja sama dia. Enggak gimana-gimana. Cuma yang bikin saya agak bingung itu, kenapa si Rama bisa suka sama si itu? (Gamau spoiler hehe.) Alangkah lebih jelasnya kalau Rama ngejelasin gimana ceritanya dia bisa suka sama saya si itu. 

Dan kemudian ada... Rico! Beberapa bab awal dia tuh kayak cuma nama doang. Tapi ternyata ehm.. ehm...




Kalau soal ceritanya sendiri, saya suka. Konfliknya dikemas dengan cukup baik, jadi walaupun konfliknya agak berat (masalah keluarganya, dll), tapi karena bahasanya ringan, jadi bacanya pun enak. 

Dan oh, ya! Ada bagian musikalisasi puisi yang saya suka banget! Parah keren banget. Saya jadi ikutan merinding. Haha. Apasih.

Tapi ada beberapa hal yang agak 'mengganjal' menurut saya.


Ini di paragraf sebelumnya ngebahas tentang kerohanian OSIS dan gimana Carisa sama Rama bisa bikin acara-acara keagamaan jadi seru dan menyenangkan.

Nah, di paragraf berikutnya langsung ngebahas KIR. Saya awalnya bener-bener enggak ngerti kenapa bisa tiba-tiba ada KIR. Baru setelah saya lanjut baca, saya ngerti kalau Carisa mau kampanye di ekskul itu. 

Dan ada:


hayo. makan malam di rumah siapa tuh? wkwk.


Ok. Maksudnya di rumah Rama/Kak Ima.


Sama ada typo sepele kayak:

*sama

Oke, itu aja, sih. Dan ini ada kutipan-kutipan yang saya suka dari Carisa dan Kiana.

"Kalian kayak dua orang yang berlari menuju matahari, saling berlomba bayangan siapa yang lebih besar dan lebih mendominasi. Parahnya, kalian tuh nggak bisa menjawab siapa yang lebih baik daripada yang lain, karena bayangan kalian ada di belakang."

--

"Penerimaan terhadap takdir yang rumit adalah langkah kecil untuk berdamai dengan diri sendiri."

--


"Saat gue percaya gue lahir ke dunia karena ada suatu sebab, saat itu gue berhenti menyalahkan diri sendiri. Setiap orang punya masalah. Cara menyelesaikan masalah adalah dengan menghadapinya, bukan dengan menghindarinya lalu memutuskan untuk mengakhiri nyawa."

--

"Namun, tidak ada yang namanya gagal kalau mereka terus belajar dan memperbaiki diri setelah melakukan kesalahan."

--

"Karena bukan kata yang menjadikan cinta tetap ada, tetapi dengan tindakan yang akan membuat cinta melekat selamanya."

Terakhir, saya kasih 3.75 dari 5 bintang buat cokelat yang katanya bisa membuat seseorang tersenyum. Selamat tersenyum : ).

Ea.



3 comments:

  1. "Kiana itu temen deketnya Stella. Maka otomatis, Kiana juga jadi enggak ramah sama Carisa, walaupun sebenernya Kiana enggak punya masalah apa-apa sama Carisa."
    Ini bukannya harusnya Carissa yg enggak ramah sama Kiana? Soalnya disini Carissa yg gk suka sama Stella. Btw porsi stella disini gk banyak ya? Kok dia kayak cuma jadi penghubung antara Carissa dan Kiana gitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Stella juga kesel sama Carissa ceritanya. Dan iya, porsi Stella emang enggak banyak di novel ini, cuma muncul di awal-awal doang hehe

      Delete
  2. koreksi sedikit kak hehe, sepertinya Ama di situ bukan Typo melainkan emang kata katanya gitu. beberapa orang di generasi ini (aku tidak termasuk) memang menyebut sama dengan Ama, mungkin generasi berikutnya akan menyebutnya dengan ma? heran sih, tapi mungkin juga emang Typo.

    ReplyDelete