Sunday, July 9, 2017

,

Alex - Pierre Lemaitre


Judul: Alex
Penulis: Pierre Lemaitre
Alih bahasa: Mimma Sutisna
Editor: Rini Nurul Badariah
Cover: Martin Dima
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Blurb:

Alex Prévost diculik dan dikurung dalam keadaan babak belur di gudang kosong. Namun, si penculik tidak melakukan apa-apa, tampaknya ia hanya ingin memandangi Alex mati. Manakah yang akan menewaskan Alex duluan: rasa lapar, haus, atau tikus-tikus?

Selain laporan samar dari saksi mata, Komandan Polisi Camille Verhœven tidak punya apa-apa: Tak ada tersangka, tak ada petunjuk, dan sepertinya tak ada yang kehilangan wanita itu. Berdasarkan pengalaman pribadi, sang detektif tahu Alex harus ditemukan secepat mungkin—tapi ia mesti mengenal wanita itu lebih dalam.

Seiring terungkapnya detail-detail tentang hidup unik Alex, Camille terpaksa mengakui bahwa orang yang dicarinya tersebut bukanlah korban biasa. Alex memang cantik, tapi juga amat kuat dan cerdas.

Segera saja, menyelamatkan nyawa Alex bukan lagi menjadi tantangan terberat bagi Verhœven.

Cerita ini dimulai dari Alex yang diculik dan dibawa ke suatu gudang. Di sana dia disiksa habis-habisan, sampai babak belur dan sebagainya.

Selain dari sudut pandang Alex, cerita ini juga dibawakan dari sudut pandang Camille Verhoeven--komandan polisi yang bertugas menangani kasus penculikan ini.

"Penculikan merupakan tindakan pidana yang amat unik, korbannya tidak terlihat di depan mata seperti dalam kasus pembunuhan."

Camille dan rekan-rekannya bekerja dikejar waktu, karena selain harus nangkap penculiknya, mereka juga harus nyelamatin nyawa korban (waktu itu mereka belum tahu kalau yang diculik namanya Alex).

Ya, mungkin segitu aja ringkasan ceritanya (yang sangat amat ringkas, iya), tapi ini demi kebaikan semua karena kalau dilanjutin sedikiit aja, saya takut jadi spoiler. HEHE.

Oke, oke, jadi saya beli buku ini karena katanya buku ini bagus, dan saya juga udah lama enggak baca cerita-cerita yang berbau misteri-misteri gini.

Pertama kali saya baca, okelah, saya pikir, ini cuma kisah penculikan yang dilakukan oleh seorang pria terhadap seorang gadis dan gimana komandan Camille memecahkan kasus ini.

Ternyata...

INI SEMUA LEBIH DARI ITU!


more than that!!!!

Ternyata, penculikan Alex itu cuma cerita pembukanya aja! Cerita sebenarnya, bener-bener lebih kompleks dari itu. Bahkan, pas lagi baca klimaksnya, saya udah melupakan cerita kalau Alex pernah diculik HAHAHA.

Oke, jadi buku ini kan terbagi jadi 3 bagian gitu. Bagian I itu tentang penculikan Alex yang berakhir... ya... begitu. WKWK. Jujur aja, pas baca bagian I ini, saya agak bosan.

Bagian II lumayan bikin saya terkejut dan ceritanya mulai menarik. Saya mulai enggak bisa berhenti baca karena fakta-fakta baru yang terungkap dari hidup Alex dan pekerjaan Camille pun mulai jadi sangat mengasyikkan.

Tapi yang parah adalah... Bagian III! Sumpah, ini benar-benar klimaks yang seru abis. Saya cuma bisa bengong-bengong aja bacanya karena saya bener-bener enggak nyangka... twist-nya parah banget! Keren, keren!





Karakter-karakternya juga saya suka banget! Terutama, Camille Verhoeven. Saya suka banget sama sifat blakblakannya dia, dan dia justru mengintimidasi orang walaupun tubuhnya pendek.

"Mengambil jarak sejauh mungkin dari kasus yang ditangani merupakan salah satu bentuk metode kerjanya. Ketika masih mengajar di akademi kepolisian, Camille pernah membicarakan metode terbang ini, yang ia namai 'teknik mengangkasa'. Karena teknik ini berasal dari pria setinggi 1,45 meter, nama tersebut seharusnya membuat orang tertawa. Tetapi, tak seorang pun berani."

Kemudian, saya juga suka karakter teman-teman kerja Camille--Louis dan Armand. Saya enggak tahu gimana hubungan mereka di buku pertama serial Camille Verhoeven (iya, Alex ini buku keduanya, tapi yang pertama diterjemahin), tapi saya suka aja sama gaya mereka. Louis yang borju tapi baik dan bisa menangani Camille, dan Armand yang seneng banget ngambil keuntungan dari setiap kesempatan. Tapi mereka berdua jelas pinter.

Terus... tentu aja Alex! Walaupun kita sempat mengikuti cerita dari sisi Alex, tetap aja, saya kaget dengan plot twist-nya. Saya emang ngerasa ada yang beda aja gitu dari dia, karena saya enggak ngerti apa yang mendorong dia untuk melakukan... itu, tapi ternyata.... ya begitu, deh HEHE (saya ngomong apasih).




Kalau untuk kekurangannya, yang saya sayangkan sih, cukup banyak typo dan beberapa ada yang menganggu saya, tapi karena saya keasyikan baca, jadi menurut saya enggak apa-apa karena toh, masih bisa dimengerti. Cuma lebih baik, untuk cetakan-cetakan berikutnya, typo-typo ini diperbaiki. Hehe.

Dan oh, ya! Saya harap, buku-buku serial Camille Verhoeven lainnya diterjemahin juga! Saya penasaran sama cerita-ceritanya yang lain.

Terakhir, ini ada beberapa kutipan yang saya suka dari buku ini:

"Ia ingin mati secepatnya, karena hidup menjadi tak tertahankan."

--

 "Harus waspada," pikir Camille, "dalam kehidupan kita yang amat singkat, akhir dunia tak ditandai dengan bencana dahsyat. Bisa saja dimulai seperti ini, sesederhana ini."

--

"Kata orang, agar dapat bertahan hidup, otak seseorang menghalau kenangan buruk dan hanya menyimpan kenangan-kenangan yang indah. Itu bukan mustahil, tetapi perlu waktu lama."

--

"Hah, kebenaran, kebenaran... siapa yang bisa mengatakan mana yang benar dan yang tidak, Komandan? Bagi kita, yang terpenting bukan kebenaran, tetapi keadilan, bukan?"


Oke, oke, jadi saya kasih 5 dari 5 bintang untuk wig merah!




2 comments: